Tiger Woods Rapuh!

tiger-woods

Tiger memang telah terpuruk, tapi berikut alasan saya mengapa karier dia belum tamat

oleh  Jaime Diaz

Banyak indikatornya: tiga prosedur/pembedahan punggung, kegagalan chip yang kerap terjadi, skor 80-an, pengunduran diri, gumaman kecil “C’mon, Tiger” sebelum memukul pitch ketiga berturut-turut ke air. Dalam sejarah golf, tidak ada pegolf hebat yang telah tersungkur dari puncak dalam waktu lama bisa kembali mendominasi. Dan tidak ada pemain dominan yang jatuh begitu dalam dengan begitu cepat—dari rekor 683 minggu di peringkat No. 1 (selama periode dari Juni 1997 hingga Mei 2014) sampai No. 683 pada Agustus 2016—seperti Tiger Woods. Jika era Woods telah benar-benar berakhir, hal itu seharusnya terjadi di usia lebih muda daripada pemain sepanjang masa sejak Bobby Jones. Woods menjuarai mayor ke-14-nya pada 2008 di usia 32 tahun, tapi Jones sengaja pensiun dari kompetisi di usia 28 tahun pada 1930, sama seperti Byron Nelson di usia 34 pada 1946.

Tahun 2013 dia memiliki lima kemenangan dan meraih penghargaan pemain terbaik tahun itu. Setelah itu dia terpuruk. Dalam enam kejuaraan mayor yang dia ikuti sejak itu—dia tak ikut satu pun tahun ini—dia gagal lolos cut empat kali.

Orang-orang pasti berpikir, dia adalah Tiger Woods, pemain paling berbakat, paling gigih, pemain terhebat yang pernah ada. Dia tak mungkin jatuh seperti itu. “Dia telah selesai bagaimanapun,” kata Dr. Jim Afremow, psikolog sport dan penulis buku The Champion’s Comeback, studi mengenai sejumlah komponen dan perilaku dalam kembalinya para atlet hebat menuju kesuksesan.

“Kembali berprestasi seperti pencapaian dia sebelumnya merupakan satu-satunya hal yang belum dia lakukan. Itulah sebabnya kita tak bosan membicarakan tentang dia.”

Tidak, golf tidak boleh menghentikan Tiger Woods.

Barangkali hal ini lebih mudah bila ada kejelasan, karena mustahil untuk mengetahui apa sumber masalah dengan Woods. Kata-katanya masih menyimpan misteri. (Lewat juru bicaranya, Woods menolak berkomentar untuk artikel ini.) Situasi dia sepertinya berasal dari tiga hal:

Cedera. Woods memiliki banyak cedera, tapi kita sering mendapat informasi mengenai hal ini dari mulutnya. Menjadikan cedera sebagai alasan permainan yang buruk memberi Woods kontrol. Dia banyak bicara tentang hal itu, terkadang secara mendetail. “Lutut ketarik ke atas, dan Achilles ikut kena, lalu betis mulai kaku,” katanya setelah mundur dari Players Championship 2011. Setelah cuti selama dua bulan tahun lalu, Woods memainkan golf terburuk dalam kariernya sebelum operasi punggung yang mengejutkan pada September dan operasi lanjutan bulan berikutnya. Sepanjang 2016, dia tetap belum memberikan kejelasan mengenai progress penyembuhan ataupun proyeksi pasti kapan dia kembali berkompetisi. “Intinya: Saya ingin bermain; saya tidak tahu kapan saya bisa,” kata Woods pada Juni mengenai kemungkinan dia kembali pada 2016.

Perpanjangan waktu cuti memberi Woods ruang untuk istirahat dari sejumlah pertanyaan dan penilaian yang dia dapatkan ketika dia bermain. Itu juga merupakan cara yang terhormat, layaknya seorang pejuang yang terluka dalam perang. Sponsornya sudah terbiasa dengan janjinya untuk bermain, dan sejauh ini, belum ada sponsor yang memutus kontraknya karena dia tidak tampil.

Golf  swing.  Setelah bertahun-tahun progres swing terakhirnya mendominasi wawancara pasca-putaran, Woods telah membatasi pembicaraan itu. Lebih sulit menerangkan tentang swingnya daripada mengenai cederanya. Woods sering melontarkan jargon “tubuh bagian bawah yang konsisten,” “kekuatan pukulan” dan “rasa” tanpa penjelasan yang memadai lalu menutupnya dengan kalimat seperti “saya makin dekat,” atau “masih dalam proses.”  Woods berbicara banyak tentang tekniknya saat dia beralih dari Hank Haney ke Sean Foley pada 2010 dan, sejak November 2014, ke “konsultan swing” Chris Como. Tiap perubahan malah membuat penurunan, yang justru menambah tekanan saat wawancara. Satu-satunya kesempatan Woods mau membicarakan swing golf adalah ketika menjelaskan chip yips yang mengejutkan yang pernah dia buat. Dia bilang bahwa masalahnya adalah dia “terjebak antara pola rilis yang berbeda” yang diajarkan oleh Foley dan Como.

Psikis. Boleh dikatakan bahwa ini merupakan hal yang paling tidak diminati oleh Woods, berdasarkan kenyataan dia memang tak pernah membicarakan hal ini. Namun sulit untuk disangkal meski penampilan dia bagus di musim 2013, permainan Woods menurun tajam sejak Thanksgiving 2009, ketika mobil Escalade-nya menabrak hidran di depan rumahnya di Isleworth dan melontarkan skandal memalukan yang berujung pada perceraiannya. Ini jelas berdampak pada golfnya. Benteng kekuatan mentalnya ikut hancur. Chip yips yang melanda dia pada akhir 2014 dan awal 2015 merupakan tanda terbesarnya. Ketika sepertinya Tiger mampu mengatasi hal itu pada Masters 2015, di mana dia finis di T-17, masalah tersebut kembali menyerang dia empat bulan kemudian ketika dia tampil pada Minggu di Wyndham  Championship, dia membuat skor triple-bogey 7 di hole ke-11. Namun kesialan Tiger berlanjut pada Mei dan Juni tahun lalu, menghasilkan skor 85 di Memorial dan 80-76 di US Open. Momen wedge paling aneh untuk Woods terjadi di pertemuan dengan media tahun ini di Quicken  Loans  National, di mana Woods menjadi tuan rumahnya. Dia diminta ikut kontes memukul 100 yard melewati kolam. Tiga bolanya berturut-turut masuk ke air.

Mungkin ada faktor keempat penyebab rontoknya penampilan Woods—pria yang selalu diteliti, dinilai, dikritik—seiring waktu berjalan. Barangkali Woods memang ingin berhenti.

Alasan untuk Berhenti

Sinyal-sinyal Woods siap untuk pensiun adalah sebagai berikut:

▶ Dia lebih banyak memakai tema “cukup” dalam wawancaranya, seperti yang  dia katakan kepada wartawan Lorne Rubenstein untuk majalah Time tahun lalu. Namun contoh yang paling nyata terjadi pada Desember lalu di turnamennya di Bahamas, Hero World Challenge. Lama tidak bermain kompetitif sejak Agustus, Woods menyatakan dia cukup senang mendekati rekor karier Sam Snead untuk kemenangan PGA Tour (82 dibandingkan Woods  79) dan Jack Nicklaus untuk mayor (18 dibandingkan prestasi Woods 14). “Selama 20 tahun bermain di lapangan, saya pikir saya sudah cukup banyak meraih prestasi,” kata dia, “dan jika memang hasil itu sudah mencukupi, berarti saya sudah menjalani karier yang sangat baik.”

▶ Pada Juni, Woods mengungkapkan bahwa dia akan menulis sebuah buku mengenai pencapaiannya yakni kemenangan Masters 1997, buku non instruksional pertamanya. Buku itu akan diterbitkan pada Maret, ditulis bersama Rubenstein.

Dia tidak peduli dirinya diperbandingkan bersama Nicklaus, yang rekor mayornya dianggap banyak orang sebagai tujuan utama Woods. Dalam buku Haney tahun 2012, mantan pelatih swingnya itu bertanya “Bagaimana dengan rekor Nicklaus? Apakah Anda peduli dengan hal itu?” dan Woods menjawab, “Tidak, saya cukup puas dengan apa yang saya raih dalam karier saya.” Dalam wawancara Time, Woods mengaku dia hanya membandingkan dirinya dengan Nicklaus dalam konteks mencoba meraih pencapaian yang setara di usia lebih muda. “Saya lebih unggul. Saya lebih unggul,” tegas Woods.

▶Memberi saran kepada Jason Day lewat SMS tapi tak mencegah Day untuk mengungkap isi pesannya.

▶ Menerima posisi sebagai wakil kapten Tim Ryder Cup AS tahun ini.

▶Ingin waktu lebih banyak bersama dua anaknya, Sam  Alexis,  9, dan Charlie Axel, 7. Ketika ditanya kemungkinan dia bermain kembali, dia bilang ke Time, “Dengan sepenuh hati, saya tak mau berhenti bermain golf. Tapi di sisi lain, kehidupan anak-anak saya jauh lebih penting. Kini, jika saya bisa melakukan keduanya, itu ideal sekali. Itu win-win. Namun jika saya hanya mampu melakukan salah satu di antaranya, itu bukanlah golf. Itu untuk anak-anak saya. Itu juga win-win.

Itulah alasan yang mendukung tesis bahwa Tiger Woods telah selesai. Namun mari kita berasumsi bahwa Woods ingin kembali. Bagaimana caranya?

Jelas dia termotivasi untuk membuktikan bahwa para kritikusnya salah mengenai dia. “Tentu, ada bagian dari dirinya yang ingin dia tunjukkan kepada mereka,” kata Foley, “tapi pada akhirnya, dalam panggung kehidupan Tiger, hal itu tidaklah cukup. Untuk mencapai komitmen itu, alasannya harus lebih mendalam.”

Woods telah berkata banyak. Dalam film seri yang dibuat oleh R&A berjudul “Chronicles of a Champion Golfer,” dia menerangkan bahwa usahanya untuk menjuarai Masters 2006, yang dia tahu bakal menjadi mayor terakhir yang dapat disaksikan ayahnya, Earl, tidak tercapai karena “Saya bermain untuk alasan yang salah. . . .Saya bermain untuk seseorang selain diri saya.”  Woods mengatakan hal itu akhirnya, sang ayah berkata ke dia, “Jangan pernah lakukan itu lagi. Kamu bermain untuk dirimu.” Woods menambahkan, “Dorongan itu harus datang dari dalam, bukan dari luar.”

Michael Phelps menemukan kembali jati dirinya melalui dedikasi ulang ke olahraganya selama 45 hari menjalani rehabilitasi setelah penahanan karena mengemudi dalam keadaan mabuk di musim gugur 2014. Juara renang Olimpiade ini mengaku dia punya pikiran bunuh diri karena rasa malu terhadap publik, tapi tampil kembali menjadi orang yang lebih bahagia dan terbuka, lewat pelatihan. Di Olimpiade Rio, Phelps, 31, meraih lima medali emas dan satu perak sekaligus makin dekat dengan rekan tim dan teman-temannya.

“Michael memiliki semua medali sebelum tahun ini; dia memang merupakan atlet Olimpiade terbesar,” kata Haney, seorang teman yang melatih Phelps bermain golf di acara TV “The Haney Project” dan juga tetangganya di area Phoenix. “Namun hal itu tidak membuatnya menjadi orang yang bahagia dan sehat. Dia orangnya baik, tapi pikirannya sering teralihkan. Saat menjalani perawatan, dia ingin menghadapi masalahnya sendiri. Dia punya maksud yang jelas mengenai hal itu, dan dia menjadi orang yang berbeda.  Dan fokus ekstra membuat dia menjadi atlet yang lebih hebat.

Perjalanan menemukan diri sendiri yang lebih lama dilakukan oleh petinju legendaris George Foreman. Dia meraih kembali gelar kelas berat di usia 45 tahun, lebih dari 20 tahun setelah dia kalah dari Muhammad Ali pada 1974.

Tak terkalahkan dalam 40 pertarungan sebelumnya, dengan kemenangan KO cepat yang lebih banyak dari Mike Tyson, Foreman menjadi favorit untuk mengalahkan Ali di Zaire. Setelah Ali memukul KO dia di ronde kedelapan, Foreman menjadi orang yang patah arang.

“Saya merasa malu, dipermalukan, terhina—semuanya,” kata Foreman dari rumahnya di Houston. “Dan ketika Anda seorang juara yang tak terkalahkan, bangkit dari kekalahan seperti itu secara psikologis merupakan hal yang sangat sulit untuk dijalani. Dibutuhkan waktu yang lama untuk kembali bangkit.”

Foreman menjadi orang yang tertutup. Pertarungan berikutnya bersama Ron Lyle, di mana Foreman jatuh dua kali sebelum akhirnya mampu menjatuhkan Lyle, terasa seperti kilas balik. “Ketika saya berada di kanvas melawan Lyle, saya berpikir, Oh, ini terjadi lagi. Saya tidak berarti,” kata Foreman. Tiga tahun kemudian, setelah kalah melawan Jimmy Young, Foreman meninggalkan arena tinju. Dia menjadi pendakwah di Houston dan tidak mau bertarung lagi selama 10 tahun penuh.

Dalam perjalanan meraih gelar pertamanya, Foreman merupakan orang yang pemarah, meniru dari mentor awalnya Sonny Liston. Setelah menjadi pendakwah, dia tampil lebih ramah dan terbuka untuk berbagi pelajaran hidupnya. “Saya menjalani hidup yang penuh kebencian,” kata Foreman, yang tumbuh di lingkungan kumuh di Houston. “Saya memutuskan saya ingin disukai, dan jika mau disukai, Anda harus menyukai.” Dia mencari orang-orang yang merasa tersakiti olehnya dalam karier tinju dan meminta maaf. “Saya punya uang lebih sedikit,” kata dia, “tapi untuk pertama kali dalam kehidupan saya, saya merasa bahagia.”

Foreman mulai bertinju lagi untuk menyokong secara finansial yayasan pemudanya.  Kembalinya dia ke ring tinju mendapatkan cemoohan. “Pada dasarnya, para kritikus itu benar,” kata dia. “Anda lihat saja sejarah tinju. Namun yang membedakan saya dengan para juara lain yang kembali bertanding adalah saya tidak memulai lagi dari tingkatan atas dengan pemain terkenal. Saya memulai lagi dari bawah dengan para petinju klub. Tidak ada orang yang pernah melakukan itu.”

Selama bertahun-tahun, Foreman bertarung melawan pesaing yang lebih baik, semakin menyempurnakan gaya bertinjunya. Namun dia juga menyadari bahwa dia tak memiliki kecepatan seperti dulu. “George Foreman yang dulu, saya tidak pernah lagi bisa seperti itu. Saya tidak mampu lagi memukul pemain di ronde pertama, dan saya harus menerimanya. Jika saya ingin menjadi juara kelas berat dunia lagi, saya harus menyempurnakan hal-hal yang tak pernah saya lakukan sebelumnya.” Dia mempelajari film para petinju tua, seperti pelatihnya, Archie Moore, dan melihat gaya tinju ekonomis yang menghemat energi dengan gerakan minimum dan menekankan akurasi dan kesabaran ketimbang power.

Foreman bukanlah seorang pegolf, tapi dia sering berbincang dengan Sam Snead ketika pegolf itu, di usia 70-an saat itu, mengunjungi kamp pelatihannya. “Dia mendukung saya kembali, menceritakan kepada saya cara dia tetap kompetitif meski dia tak seperti dulu,” kata Foreman. “Tiger harus mencoba beberapa hal sama yang pernah saya lakukan. Dia pernah mengalami rasa malu dan terhina. Dia melakukan hal yang banyak dilakukan atlet lain; dia kepergok. Namun saya pikir dia akan kembali bangkit. Yang penting adalah dia tak bermain seperti Tiger Woods usia 21 tahun. Dia harus menerimanya dan memanfaatkan apa yang ada sekarang. Dia masih tetap hebat, karena kehebatan itu masih ada dalam dirinya. Meski saya mengubah gaya saya, bagian dalam dari diri saya tidak pernah berubah.”

Tentu saja, Foreman tidak memiliki kompleksitas masalah yang dihadapi Tiger Woods. Woods merupakan pemain introvert, yang tidak suka berbagi perasaannya. Segala aktivitas golfnya, bahkan di area latihan ataupun klinik, selalu dipantau media. Yang paling penting, Woods sedang melawan cedera yang berpotensi mengakhiri kariernya.

Semasa mudanya, Woods dapat kembali dengan cepat dari cederanya. Buku tahun 2014 Blood Sportmelaporkan bahwa setelah cedera lututnya di bulan Juni 2008 dan cedera tendon Achilles yang mengharuskan rehabilitasi agresif, Woods menjalani 14 sesi terapi darah dengan dokter olahraga Kanada Anthony Galea, yang pada 2011 mengaku bersalah menyelundupkan hormon pertumbuhan ilegal ke Amerika Serikat untuk para atlet pro. Buku itu juga melaporkan bahwa rekan Galea mengunjungi Woods 49 kali dari September 2008 hingga Oktober 2009. Woods dan Galea mengatakan bahwa Woods hanya menerima terapi plasma yang kaya dengan platelet secara legal.

Rasa Sakit, Tingkat Stres dan Psikologi

Meski waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan punggung bawah tergantung masing-masing individu, biasanya aktivitas fisik bisa dilanjutkan setelah 12 minggu. Namun, dengan Woods yang menunggu lebih dari setahun penuh untuk bermain lagi, agennya, Mark Steinberg, mengatakan bahwa Tiger  “belum mempertimbangkan atau berencana untuk mempertimbangkan” apakah faktor psikologis berpengaruh bagi gejala fisik. Ada banyak riset yang memberikan bukti bahwa tekanan dari emosi—khususnya kemarahan dan rasa malu—dapat menjadi sumber penting bagi penyakit kronis. Menurut riset dari Dr. John Sarno, kini pensiunan profesor pusat rehabilitasi NYU, reaksi tubuh terhadap luka psikologis dapat menciptakan rasa sakit fisik untuk mencegah emosi yang terpendam menjadi muncul ke permukaan. Sarno menyebut hal ini Tension Myoneural Syndrome dan mengatakan bahwa penyakit psikosomatik ini sering terjadi pada punggung.

Afremow, koordinator performansi untuk San Francisco  Giants, mengatakan dia sering menyaksikan variasi gejala terjadi dalam olahraga kompetitif. “Khususnya dengan atlet top, rasa sakit bisa menjadi barometer tingkat stres mereka,” kata dia. “Para pria cenderung menutupi  apa pun, dan ini sering terjadi pada pemain tingkat atas, yang terbiasa memaksakan kemampuannya. Ini dapat mengakibatkan rasa sakit berkepanjangan, tanpa ada tanda fisik. Hubungan tubuh-pikiran sering diremehkan.”

Beberapa orang yang dekat dengan Woods khawatir dia menderita sakit karena rasa marah dan penyesalan. Temannya, Michael Jordan, yang sukses kembali ke bola basket setelah pensiun satu musim untuk bermain bisbol pro setelah kematian ayahnya, berkata kepada Wright Thompson dari ESPN The Magazine bahwa Woods terus menderita sebagai akibat dari perselingkuhannya. “Hal itu mengganggu dia lebih dari apa pun,” kata Jordan. “Hal itu terus ada di pikirannya. Apa yang bisa Anda lakukan? Itu adalah T-Dub, dia tak bisa menghapusnya. Itu yang hendak dia lakukan sesungguhnya. Dia ingin menghapus hal-hal yang telah terjadi.”

Afremow mengatakan bahwa atlet yang sukses kembali bermain pertama-tama membangun mentalnya dengan membebaskan—biasanya dengan bantuan profesional—“hambatan mental” dari konflik emosional yang menghambat kemampuan motorik, konsentrasi dan energi.

“Kasus Tiger barangkali lebih sulit karena masalah ini sudah menjadi perhatian publik,” kata Afremow. “Namun apa pun masalahnya, dia harus memberi kesempatan bagi dirinya untuk menjadi hebat kembali. Sebagai pegolf, dia punya waktu. Jika dia bisa memulihkan permainannya, ini akan membuat dia menjadi tokoh paling penting yang bisa kembali berprestasi.”

Menilai bahwa karier Woods telah habis mungkin terlalu meremehkan. Bagaimana seandainya Woods yang sehat dan segar kembali masih memiliki kemampuan tersembunyi yang tak tertandingi, di olahraga dengan margin kesalahan terkecil, untuk kembali ke tempat teratas? Jika dia benar-benar ingin kembali, barangkali tantangan terberat dalam hidupnya masih bisa diatasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *